ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Tony Q rastafara
MJrasta.com - Indonesia merupakan negara kepualuan yang memiliki berbagi suku ras dan agama. Indonesia juga memiliki berbagai genre yang di sukai setiap orang, dari Rock, Pop, Jazz, Keroncong, dan lain lain, dan termasuk musik yang bakal kami ulas yaitu musik Reggae.

Di indonesia musik reggae merupakan musik yang lagi banyak di gandrungi anak muda. Beberapa kota besar sudah banyak sekali yang mencitai musik yang satu ini. Karena musik ini memiliki tempo santei lirik damai dan lirik cinta alam, ada beberapa soal cinta.

Band reggae bermunculan, Tony Q, Steven n coconut trezz, Gangstarasta, Souljah, Ras Muhammad, Marapu, Burger Time, dan masih banyak lagi.

Semakin banyaknya event reggae membuat panitia semakin repot untuk mengatasi para antusias pecinta musik Reggae.

Perkembangan Musik Reggae di Indonesia
Sekitar tahun 1986, musik reggae mulai dikumandangkan di Indonesia. Band yang mengawali adalah Black Company, sebuah band dengan genre reggae. Kemudian beberapa tahun kemudian muncul Asian Roots yang merupakan turunan dari band sebelumnya. Lantas ada pula Asian Force, Abresso dan Jamming. Keberadaan musik reggae di Indonesia terkesan terpinggirkan. Apalagi kesan yang diperoleh ketika seseorang melihat penampilan para musisi reggae yang terkesan urakan.

Bahkan, ada idiom yang hingga kini membuatnya yaitu reggae identik dengan narkoba. Apakah reggae identik dengan narkoba? Inil salah penafsiran sahaja. Sebut saja nama Tony Q yang dengan tegas bahwa reggae-nya adalah menitikberatkan pada cinta damai. Bila ditilik dari sejarahnya memang demikian yaitu identik dengan ‘ital’ –Ganja—sebut saja lagu Petertosh Let Jah Be praised, Mystic man, Legalized it dll. Yang begitu mengagungkan ganja sebagai alat seorang rastaman bersatu dengan Jah atau tuhan mereka. Memang tidak bisa dipungkiri pandangan negatif tentang musik ini. Sebenarnya tidak demikian gerakan rastafari adalah sebuah gerakan besar yang terdiri banyak sekte bahkan tidak mengikat, artinya seseorang bebas menentukan jalan hidupnya tetapi tetap mengakui Rastafari Makonnen sebagai Messias baru.

Bahkan di Jamaika seorang Rastafarian adalah seorang vegetarian tulen. Jika seorang Peter Tosh atau Bob Marley dengan lirik-liriknya yang berbau ganja hanya disebabkan mereka menemukan bahwa itulah suatu jalan menuju kedamaian batinnya saja, disamping makanan ital dan ganja adalah budaya Africa yang menurut mereka sebagai sesuatu yang harus dirangkul kembali. Dalam ajaran rasta tidak ada yang mengharuskan meng-ganja. Atau meng-gimbal, itu hanyalah pemikiran tentang perangkulan budaya Africa yang dianggap rendah oleh kulit putih, dan pengikut ajaran ini ingin membuktikan bahwa budaya ini tidaklah rendah.

Tinggal sekarang adalah bagaimana mengikuti Budaya sendiri di Indonesia, namun untuk selera musik reggae tetap di hati.

Semakin banyaknya pecinta musik reggae, maka buatlah reggae itu musik yang modern yang nyentrik. Bob marley memang menjadi kiblat di musik reggae. Namun musisi harus lebih berkarya dan jangan kalah dengan sang legenedaris.

Kabar 2013-2014
Ini merupakan informasi yang mengejutkan. Bahwa Indonesia ternyata memiliki pecinta musik reggae terbanyak. Karena sempat situs musik jamaika terbesar. JamaicanSound. Sempat datang di indonesia untuk melihat Indonesia dan membuat dokumentari tentang perkembangan di Indonesia. Dan mereka sadar bahwa Indonesia lebih banyak peminat musik Reggae dari pada kelahirannya, Jamaika.

About MJrasta.com

Memperlebar sayap dengan menyebarkan info melalui media pergerakan. Gabung di Fanpage, Twitter kami untuk informasi melalui media sosial.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Top