Select Menu

Slider

News

Performance

Cute

My Place

Photo

Racing

Videos

MJrasta.com - Nath Thelions memang tidak pernah berhenti untuk berkarya, belum lama ini, di tahun 2013 Nath Thelions merilis album ke2 yang berjudul "We are Blessed" tepatnya pada 3 Maret kemarin mereka mengadakan rilis party Wapress Bulungan, Jakarta.

Dan di album ke 2 Nath Thelions genap berusia 1 tahun. Kini mereka berkarya lagi, dengan mempersiapkan album ke3 nya, untuk judul kami masih belum mengetahui. Namun Nath Thelions sudah mengeluarkan single terbarunya di album ke3nya, Mereka sudah sering menyanyikan single terbarunya yang berjudul Gerus.

Sempat di nyanyikan di event reguler Komunitas Reggae Indonesia yang di siarkan di TV Nasiol TVRI. Bagi yang belum melihatnya bisa melihatnya di rekaman ini.


Walaupun sudah di nyanyikan memang belum di record, tapi sejak penulisan ini. Nath Thelions sudah mulai melakukan records untuk album ke 3 ini. Kapan akan rilisnya? kita tunggu kabar selanjutnya.
MJrasta.com - perkenankan kami membuat sebuah donasi dengan karya kami, MJrasta bermaksud membuat tshirt dengan tema Jamaican Sound, mengumpulkan semua musik Jamaika, Reggae, SKA, DUB, dan rocksteady.

Maksud pembuatan tshirt ini adalah betuk kalian support kami untuk terus mengembangkan website ini agar terus berjalan. Karena website ini mebutuhkan modal untuk terus berjalan sedangkan kami tidak memiliki pemasukan khusus. Maka dari itu kami mebuat tshirt ini secara pre-order, bagi yang minat langsung saja.

Tampilan Desain
Jual kaos reggae ska dub rocksteady 2014

Detail Information
- Harga : Rp,70.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
- Bahan Catton Combet s30
- Sablon Rubber matsyui
- Pengerjaan setelah 12pcs terpenuhi,
- Max pembayaran 24 Desember 2014
- Pembayaran full via transfer bank

Ukuran Kaos : 
S : P=68 l=46
M : P=70 l=48
L : P=72 l=50
XL: P=74 l=52
pilih ukuran dengan benar


Pemesanan bisa :
SMS : 0856 0000 2551
WA : 0856 000 2551
PIN BBM : 7DBE87A8

Terima kasih buat kalian yang selalu mendukung kami agar terus mempromosikan band atau informasi kalian seputar musik Jamaika.
-
smoke to join band
MJrasta.com - Rokok merupakan barang yang sudah tidak asing untuk anak muda Indonesia, sudah menjadi teman kebersaamaan di saat sedang nongkrong atau di setiap acara acara santei. Dan salah satu band ini sebuah asap dari Rokok bisa membuat kan nama band ini terlihat lebih menarik.

Smoke To Join, band yang sudah lalu lalang di Jakarta dan sekitarnya. Terbentuk pada 24 Oktober 2011 mereka mulai eksis di panggung hiburan Indonesia untuk menyuarakan musik reggae. Smoke To join ini berasal dari belahan timur kota Jakarta yang padat merayap. Mereka terbantuk berawal dari iseng-iseng menjadi sebuah band yang di kenal di Jakarta, dari anak ingusan masa sekolah dan semakin dewasa berkomitmen untuk serius di bidang musik ini (Reggae).

Mereka menamakan Smoke To Join tidak hanya asal saja, mereka juga memeiliki filosifi untuk nama mereka, dari kata SMOKE itu adalah asap/rokok yang menyala dan sedangkan JOIN adalah arti dari kebersamaan, di sinilah kata SMOKE TO JOIN lebih menyala, dengan nama SMoke to join ini mereka memiliki tekat yang menyala/membara dengan kebersamaan.

Smoke to Join di nahkodai oleh 6 orang muda yang hebat, Aldi di vocal, Rizki di lead guitar, Reza di Ryitem, Fajar di Bass, Ari di Drum dan Reynaldi di Keyboardis, dengan mereka ber6 ini ini bermaksud untuk terus mengelarkan karya sebaik mungkin dan memberikan nuansa baru di musik reggae agar lebih dekat dan di kenal untuk masyarakat khususnya indonesia.

MJrasta.com - Sempat ngombrol-ngobrol via Facebook yang katanya akan rilis album terbarunya ternyata bernar sekali, Dulu sempat bilang Bakalan rilis di akhir novermber atau awal desember ucapnya, di sela sela santai bermain facebook, ini beritanya di sini.

Dan akhirnya Erwin Saz memutuskan untuk besok, 16 Desember 2014 akan melakukan launcing album terbarunya, Ini merupakan album terbarunya sejak Dari mini album pertama itu dia melahirkan hits "Sumitro Rojali." Setelah rilis pada 2011, dia tak mencetak album lagi. Padahal, saat itu dia digandeng perusahaan major label.

Dalam kontrak yang di sepakatai, Kontraknya (dengan major label itu) untuk tiga album. Tapi, di tengah jalan, Erwin Saz memutuskan untuk keluar dari major label. Karena dia menaggap dengan memiliki label tapi tak mengeluarkan karya sama saja tidak berkarya, maka dari itu Erwin Saz Balik keasalnya, Bandung.

Dalam penggarapan album terbaru ini, Erwin Saz memang mengerjakan sendiri, sempat melihat beberapa karya sedang di proses mixing atau sejenisnya agar karyanya lebih mantap untuk di dengarkan.

Di kutip dari Iniliahkoran.com, Rencananya, album terbaru ini diberi judul "Uyee is Back." Itu menunjukkan dan ingin membuktikan kepada dunia, dia masih berkarya dan kembali. Dalam album yang dirilis sebanyak 500 keping CD ini berisi 10 lagu.

“Ada sepuluh lagu, yaitu Cantik, Cuma Teman Biasa, Mana Kopinya, Come Along, Love Me Do, Way Out, Biarkanlah, Kamoe, Bayanganmu, dan di Pantai," jelas Erwin sembari membaca catatan di dalam ponselnya.

Hampir seluruh lagunya tergolong lagu riang. Itu diakuinya sengaja dilakukan agar menyebarkan energi positif kepada fansnya yang kerap disebut Sazmania.
-
 
Lee Scratch Perry The King of Dub Reggae
Lee Scratch Perry The King of Dub Reggae

MJrasta.com - Kata “Dub” hari ini digunakan untuk mendeskripsikan genre music yang berisikan campuran dan pembaharauan dari rekaman-rekaman yang sudah ada. Penyampuran ini memanipulasi secara radikal dan membentuk ulang rekaman tesebut (menggunakan efek-efek suara). Produksi dan prosesnya tidak hanya dilakukan untuk membuat replika dari pertunjukkan music dari artis2 rekaman tersebut, tetapi efek audio dan trik studio dapat dilihat sebagai bagian integral dari music itu sendiri.

Akar dari ‘Dub” dapat dikilas balik dari Negara Jamaika di akhir 1960-an, dimana Osbourne Ruddock dikenal secara luas sebagai pelopornya. Ruddock merubah meja mixing menjadi sebuah alat music, dengan DJ atau mixer yang memainkan musiknya. Contoh music ‘Dub’ dimasa-masa awalnya dapat didengar pada intro-intro musik dansa atau genre music pop.

Musik Jamaika selalu meminjam banyak aspek daru music Amerika yang popular dan mengadaptasinya untuk member variasi yang unik untuk music Jamaika. Dalam tahun 40-an, music ‘Big Band’ sangatlah popular di jamaika, yang menjadikan banyaknya band swing mengadakan tur keliling negara tersebut untuk tampil di gedung2 pertemuan local, tapi pada tahun 50-an, band-band ini mulai terpecah-pecah menjadi lebih dinamik, optimis, bop, ritme dan band blues.

Orang-orang Jamaika yang berkeliling Amerika untuk mencari pekerjaan terekspos pada jenis music ini, yang cocok dengan optimisme selesainya perang di Amerika. Tidak hanya music itu ditampilkan secara ‘live’ tapi juga diputar dengan sound sistem, dan tren ini juga segera menjadi tren baru di Jamaika. Operator-operator sound sistem mulai bermunculan di area lorong2 ibukota Jamaika, Kingston, dan mengadakan acara dansa secara besar2an di area terbuka yang mereka sebut ‘lahan bercocok tanam kosong’.

Operator-operator ini juga mengadakan perjalanan ke distrik-distrik di Jamaika untuk bersaing langsung dengan band-band besar. Sound sistem langsung mengambil alih tempat-tempat dansa, dan karena banyaknya orang yang tidak memiliki radio, itulah satu-satunya cara untuk mendengarkan music baru ‘R ‘n B’. Sound Sistem juga lebih mudah dioperasikan daripada selusin musisi dan dapat bekerja tanpa henti. Ditengah-tengah 1950-an, Duke Reid dan Clement ‘Coxcone’ Dodd telah menjadi operator sound sistem yang terkenal di Jamaica.

Pada tahun 1954, Ken Khouri memulai ‘Federal Records’, perusahaan rekaman pertama di Jamaika yang dan mendapatkan ijin untuk memperbanyak album2 rekaman dari Amerika, juga artis2 lokal. Mengikuti kesuksesannya, Duke Reid dan Clement Dudd juga membuat sesi2 rekaman mereka, merekam artis-artis Jamaika dengan sound sistemnya sendiri dengan harapan dapat memasuki kancah kompetisi bisnis.

Duke Reid merekam Derrick Morgan dan Erick Morris untuk permainan sound sistem, yang bermain di ‘S-Corner” di Jalan ‘Spanish Town”, bahkan menamai rekaman pertamanya “S-Corner Rock” ketika dimainkan dengan sound sistem sebagai rekaman eksklusif. Clement Dodd juga membuat sesi rekaman pertamanya tahun ini, merekam lebih dari selusik trek lagu dengan artis-artis seperti Alton Ellis dan Eddie Perkins, Theophilius Beckford, Beresford Ricketts dan Lascelles Perkins.

Kawula muda Jamaika telah berpindah ke kota-kota besar untuk mencari kerja pada awal tahun 60-an. Mereka tidak menemukan pekerjaan, dan kegemaran akan area-area pinggiran telah berkurang. Anak-anak muda ini atau yang disebut ‘Rude Boys’, mulai membentuk kelompok2 politik dari area2 pinggiran yang berbeda di seluruh kota Kingston.

‘Rude Boys’ terhubung dengan apa yang disebut ‘Dunia Bawah Tanah’, lapisan masyarakat yang hidup diluar kuasa hukum, dan yang selalu membuat acara2 untuk music Jamaika. Hubungan ‘Rude Boys’ dengan lantai2 dansa, juga cara mereka menari (lebih lambat dan mengancam) merubah gaya musik hingga akhirnya dimainkan lebih cepat (Musik Ska),dan lebih lambat (Rock Steady). Saat banyak produser mengklaim bahwa mereka lah yang telah menciptakan ‘Rock Steady, yang sebenarnya adalah pada saat itu, mengkapitalisasi, merekam, dan merilis beberapa variasi dengan gayanya.

Fase ‘Rock Steady’ menjadi tren selama sedikitnya satu tahun, dan meskipun Duke Reid dan Coxone Dudd telah mendominasi music Jamaika selama lebih dari sepuluh tahun, tiga produser lain, Lee ‘Scratch’ Perry, Bunny Lee dan Osbourne Ruddock (ketiganya telah bekerja untuk Ried dan Dodds) punya pengaruh kuat dalam alur music Jamaika pada tahun 70-an dan sesudahnya.

Sumber : indoreggae.com


MJrasta.com - Berawal dari kedatangan seorang penyanyi serta penulis lagu berkebangsaan Jerman bernama Tilmann Otto aka Gentleman di sebuah bandara di Jamaica. Ia disambut oleh beberapa teman-teman dari orang lokal dan juga seorang lagi penyanyi reggae terkenal Alborosie. Dari situlah kemudian film ini terus bergulir. Film ini bercerita mengenai perjalanan, sentuah visual serta emosional yang dirasakan oleh Gentleman selama berada di negara yang didominasi oleh musik reggae tersebut.

Bukan hanya hanya satu-dua tahun, film ini telah merekam dan mengikuti perjalanan dua orang berkebangsaan Eropa, Gentleman and Alborosie selama kurang lebih tujuh tahun. Selama kunjungannya di Jamaica Tilmann Otto yang kerap disebut Gentleman tersebut berkomunikasi, berinteraksi, “bercampur’ dengan masyarakat lokal dengan penuh dengan problematika sosial yang sama sekali berbeda dengan negara asalnya. Sedangkan Alborosie sendiri telah menjadi bagian dari masyarakat di Jamaica tersebut. Ia berkeluarga dan menikah dengan perempuan cantik asal Jamaica dan merasa telah menemukan ‘rumah’ di tempat tersebut. Dalam sistem ekonomi, sosial dan politik di Eropa yang telah begitu mapan dan mantap, ternyata tidak mampu mengubah pandangan dua orang ini (Gentleman and Alborosie) untuk mencari dan mencari tujuan spiritual mereka hingga ke negara tempat musik Reggae berasal.



Mengambil setting di Jamaica. Tentu membuat musik Reggae kerap muncul dan seolah menjadi nyawa dalam film tersebut. Hal tersebut sangat mudah dipahami karena bagi masyarakat disana, musik Reggae adalah bagian dari diri mereka. Musik Reggae merupakan Jalan menuju sebuah pencarian spiritual serta sebuah spirit untuk menyatukan masyarakat. Musik pula yang telah mempertemukan Gentleman and Alborosie dua orang Eropa dengan kebangsaan yang berbeda dalam satu rasa Jamaica.

Selain sebuah ekspresi, musik reggae juga dianggap menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk membebaskan diri dari segala macam represi yang mengikat mereka. Ada kegembiraan, keceriaan ketika mereka bersama-sama memainkan musik dan bernyanyi bersama di jalanan bersama puluhan penduduk lain yang ikut bergabung menyemarakkan suasana. Sementara hari-hari berikutnya bisa berbalik menjadi ketakutan ketika hujan peluru terjadi di dalam kota.

Dua hal yang diinginkan setiap masyarakat adalah kedamaian dan kebebasan. Mungkin dua hal itulah yang ingin dicari oleh Gentleman and Alborosie dalam perjalanannya mencari Jah. Kedamaian itu diartikan oleh Alborosie, apabila ia bisa memandang pantai biru tosca yang tenang, sambil mencari sumber pangan dengan duduk berjam-jam memegang sebuah pancing di pinggir pantai ditemani oleh sang istri. Sedangkan kebebasan itu adalah saat-saat dimana ia mampu melihat riuh ribuan penonton dan bersama-sama menyanyikan lagu. Perjalanan menuju Jah bisa berupa apapun. Akan berbeda pengalaman dari setiap perjalanan yang dialami Alborosie Gentlemen maupun masyarakat di Jamaica. Namun ada saatnya mereka semua bisa bertemu satu rasa, satu jiwa ketika telah disatukan oleh sebuah bahasa yakni musik.

Sang direktur sendiri sangat piawai untuk membuat narasi yang pas dari penggambaran sebuah relasi sosial di Jamaica. Banyak hal yang ia ingin sampaikan dalam film tersebut tidak hanya sebatas pada perjalanan Gentleman and Alborosie tetapi juga tentang segala aspek sosial dan konflik yang ada dilingkungan tersebut. Ia juga berusaha membuat muatan film tersebut seimbang dengan memasukkan sudut pandang mengenai reggae dan Jamaica dari beberapa musisi seperti Richie Stephens dan Damian Harley serta seorang akademisi Professor Carolyn Cooper sehingga memperkaya informasi tentang dunia reggae beserta problematikanya.
Yang menarik menurut saya adalah ketika Professor Carolyn Cooper menyatakan pendapatnya tentang tubuh cara perempuan mengungkapkan kecantikannya dengan tarian yang oleh dunia dianggap sebagai tarian erotis. Ia berpendapat bahwa musik reggae tidak hanya musik bagi laki-laki. Dalam musik reaage perempuan juga ikut mengapresiasi dengan gerak tubuh dan tarian. Lebih baik tidak memandangnya dari segi erotisnya. Menari dengan gaya tersebut adalah cara perempuan di Jamaica untuk meng-ekspresikan kecantikannya. “selama ini masyarakat menganggap perempuan cantik adalah perempuan kulit putih, sementara mereka (perempuan Jamaica) tidak” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa setiap perempuan ingin dianggap cantik, dan perempuan disini punya cara tersendiri untuk meng-ekspresikannya.

Dengan berbagai macam penghargaan yang telah di terima oleh sang Director Noël Dernesch, untuk film “Journey to Jah” diantaranya adalah, Berlinal (Berlin International Film Festival) pada tahun 2014 kemudian Maui Film Festival Hawaii di tahun yang sama, film ini jelas akan memberikan sebuah wawasan baru bagi para penggemar film reggae khususnya serta masyarakat luas pada umumnya.

Sumber : indoreggae.com
-
MJrasta.com - Kumpulan foto dari Gangstarasta saat perfom di JackCloth End Yaer Sale 2014, Bertempat di Hula - hula Stage 04/12/2014 Parkir Timur Senayan.